Kupu-kupu
Sejenis hewan yang diciptakan oleh Sang Kholik mengandung banyak pelajaran untuk manusia. Dia hidup tidak melalui proses dilahirkan ataupun menetas seperti telur. Tetapi dia hidup (kupu-kupu) melalui proses perjuangan yang luar biasa. (Ikuti perjalanan singkat hidup kupu-kupu).
Kupu-kupu bermula dari hewan yang namanya ulat, Siapa yang tak kenal ulat? Hewan yang hidupnya sangat terancam jiwanya.. Bagaimana tidak ? Hewan ini kalau mau keluar dari persembunyiannya, jika tidak ekstra hati-hati akan mati. Lagi enak jalan, dipatok ayam, atau burung. Kalo ketemu manusia diinjak pula lantaran dianggap bisa menimbulkan gatal-gatal pada kulit, ataupun karena jijik melihatnya. Banyak lagi hal-hal yang mengancam jiwa ulat ini. Singkat cerita hidupnya penuh dengan bahaya dan tidak aman.
Tapi . . . manakala ulat ini melakukan suatu tindakan / perilaku dalam hidupnya melakukan “puasa” tidak makan dan minum dalam jangka waktu yang lumayan tidak singkat. Maka Allah SWT merubah wujud ulat ini melalui sebuah metamorfosa, proses wujud bodinya menjadi kepompong. Dan terus ulat ini tidak makan dan minum dia merubah dari kepompong menjadi kupu-kupu. Suatu keajaiban terjadi, dari hewan yang semula ditakuti, jijik, tidak enak dipandang dll, sekarang menjadi hewan yang cantik, dengan warna warni yang melengkapi indahnya taman bunga, dengan terbangnya kupu2.
Orang menjadi ingin dekat, menyentuh, bahkan memilikinya.
Begitulah cerita singkat kupu2, mudah-mudahan dapat diambil hikmah dari cerita diatas. Paling tidak kita sebagai manusia jika mengamalkan ajaran agama, Allah akan menjadikan kita bermanfaat bagi orang lain, banyak disukai orang, kehadirannya dirindukan.
Filed under: Uncategorized | 3 Komentar »
>Back to nature ! Kembali ke alam !, sebutan itu barangkali, sekarang sering kita dengar. Memang terasa merdu di telinga, pikiran jauh menerawang akan suasana alam pedesaan nan asri. Bebas dari pengaruh zat kimia, yang kian hari makin meracuni hidup kita. Stop zat kimia !!! Petani sebagai basis dari masyarakat Indonesia, harus sudah merubah pola bertani, yaitu dengan bertani organik. Bagaimana ? Bisakah merubah kebiasaan yang serba instantt, praktis dengan sesuatu yang perlu persiapan. Seperti menyiapkan kompos dan lain sebagainya.